ARuang kelas itu berbau spidol baru dan kopi pahit milik ustadz pembimbing. Layar proyektor menampilkan peta jalur kereta Shinkansen, sementara puluhan santri SMP Ar-Rohmah Putra Malang duduk dengan punggung tegak—lebih tegak dari biasanya. Bukan karena takut ditegur. Melainkan karena mereka paham: persiapan santri Ar-Rohmah menuju Jepang bukanlah tiket liburan yang datang tanpa harga. Ada seleksi yang melelahkan di belakangnya, dan ada tanggung jawab besar yang menanti di depan.
Bukan Sekadar Nama di Daftar Peserta
Cerita ini tidak dimulai dari bandara. Jauh sebelum paspor diperiksa, jauh sebelum koper dikemas, ada lorong panjang bernama seleksi yang harus dilalui setiap santri. Nilainya bukan cuma angka rapor. Bukan cuma hafalan juz. Ustadz pengampu menilai sesuatu yang lebih sulit diukur: konsistensi adab selama di asrama dalam persiapan santri Ar-Rohmah.
Bayangkan seorang santri yang nilai akademisnya cemerlang, hafalannya lancar, tapi pernah terlambat shalat berjamaah tiga kali dalam sebulan. Atau santri lain yang selalu tepat waktu, tapi pernah berkata kasar kepada teman sekamar saat emosi memuncak. Catatan-catatan kecil semacam itu menjadi batu-batu penguji di jalan menuju Negeri Sakura.
Maka ketika nama-nama akhirnya diumumkan—dibacakan satu per satu di hadapan seluruh angkatan setelah shalat Maghrib—reaksi yang muncul bukan sorak-sorai berlebihan. Yang terdengar adalah bisikan alhamdulillah, tangan-tangan yang saling berjabat, dan beberapa pasang mata yang berkaca-kaca. Sebagian karena lega. Sebagian karena teringat teman yang belum beruntung kali ini.
Persiapan Santri Ar-Rohmah: Membedah Jepang Sebelum Menginjaknya
Lolos seleksi ternyata baru babak pertama. Babak kedua justru lebih menantang secara intelektual dan emosional: kelas pembekalan materi. Di sinilah para santri terpilih diajak menyelami Jepang bukan sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai ruang belajar yang menuntut kesiapan total dalam persiapan santri Ar-Rohmah.
Materinya tidak main-main. Ada sesi tentang ojigi—seni membungkuk yang di Jepang bukan sekadar basa-basi, melainkan cerminan kedalaman rasa hormat seseorang. Santri berlatih membedakan tiga jenis ojigi: eshaku (15 derajat, untuk sapaan ringan), keirei (30 derajat, untuk guru atau orang yang dihormati), dan saikeirei (45 derajat, untuk permohonan maaf mendalam atau penghormatan tertinggi). Beberapa santri tertawa saat pertama mencoba. Tapi setelah ustadz menjelaskan filosofinya—bahwa di Jepang, tubuh berbicara sebelum mulut—tawa itu berubah menjadi keseriusan.
Sesi lain membahas etika di transportasi umum. Tidak boleh berbicara keras di kereta. Tidak boleh makan sambil berjalan. Antrean adalah harga mati. Bagi santri yang sudah terbiasa dengan disiplin pesantren, sebagian aturan ini terasa familiar. Tapi konteksnya berbeda. Di asrama, mereka menjaga adab karena ada muraqabah dari ustadz. Di Jepang, mereka akan menjaga adab karena mereka adalah representasi pesantren, representasi Islam, representasi Indonesia, dan bagian dari persiapan santri Ar-Rohmah.
“Kalian bukan turis. Kalian adalah duta. Setiap perilaku kalian di sana adalah dakwah tanpa kata-kata. Orang Jepang mungkin tidak pernah membaca Al-Quran, tapi mereka akan membaca akhlak kalian.”
Kalimat itu disampaikan oleh salah satu asatidz pembimbing dalam sesi pembekalan, dan langsung meninggalkan keheningan panjang di ruangan. Beberapa santri menunduk. Bukan karena malu—tapi karena berat tanggung jawab itu baru benar-benar terasa menghunjam.
Ganbatte Kudasai dan Man Jadda Wajada: Dua Semangat, Satu Napas
Ada momen menarik dalam kelas pembekalan yang terekam dan dibagikan melalui akun Instagram resmi Ar-Rohmah Putra serta laman Facebook pesantren. Dalam tayangan tersebut, tampak para santri dengan penuh antusias menyerap materi tentang budaya dan etika Jepang—wajah-wajah muda yang serius tapi berbinar, mencatat dengan teliti, sesekali berdiskusi dengan teman sebangku.
Yang menohok justru bukan kemewahan agenda perjalanan, melainkan kesungguhan proses persiapan santri Ar-Rohmah. Santri-santri ini tidak sekadar dibekali peta wisata. Mereka diajak memahami mengapa orang Jepang sangat menghargai waktu, mengapa kebersihan dijadikan prinsip hidup, mengapa kerja keras (ganbaru) menjadi tulang punggung peradaban mereka.
Dan di titik inilah dua dunia bertemu secara indah. Ganbatte kudasai—seruan semangat khas Jepang—ternyata bernapas dalam irama yang sama dengan man jadda wajada, prinsip yang sudah mendarah daging di kehidupan santri. Keduanya bicara tentang hal yang sama: bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses yang sungguh-sungguh dalam persiapan santri Ar-Rohmah.
Ketika Orang Tua Melepas dengan Doa dan Air Mata
Di balik layar kelas pembekalan, ada cerita lain yang jarang terekam kamera. Cerita tentang orang tua. Seorang ibu dari Surabaya menelepon wali kelas putranya, bukan untuk bertanya soal jadwal penerbangan, tapi untuk memastikan anaknya sudah bisa makan menggunakan sumpit dengan benar. Kekhawatiran yang terdengar sepele, tapi di baliknya tersembunyi doa seorang ibu yang ingin anaknya tidak merasa asing di negeri orang.
Ayah lain mengirim pesan panjang lewat grup WhatsApp wali santri. Isinya bukan instruksi logistik, melainkan wasiat singkat yang ia minta disampaikan kepada putranya sebelum berangkat: “Jaga shalatmu. Itu kompasmu di mana pun kamu berdiri.”
Doa-doa semacam ini menjadi bahan bakar tak terlihat yang menggerakkan seluruh jiwa dan raga para santri ar-rohmah.
Referensi & Tautan Terkait: Informasi resmi profil pesantren dan pendaftaran santri dapat diakses melalui portal resmi Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang, serta dokumentasi tayangan terkait pada Instagram Resmi Pesantren (@arrohmahputra) dan Halaman Facebook Resmi Pesantren.




