Bau tanah basah selepas hujan sore masih menggelayut di selasar asrama ketika rombongan adik-adik SMP IT Insan Permata pertama kali menginjakkan kaki di halaman Pondok Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang. Tas ransel tersandang berat, mata membulat penasaran, dan sedikit gugup mewarnai wajah-wajah muda itu. Belum genap satu menit, seorang santri senior menyapa ringan sambil membantu mengangkat barang: “Santai aja, Dek. Nanti malam kita main futsal bareng.” Kalimat sederhana itu langsung mencairkan suasana. Inilah awal dari keceriaan 24 jam santri nyantri—sebuah pengalaman menginap penuh di pesantren yang bakal meninggalkan jejak panjang di hati setiap pesertanya.
Sore yang Riuh: Keceriaan 24 Jam, Bola Bergulir, Tawa Meledak di Lapangan
Tidak ada orientasi formal yang kaku. Tidak ada sambutan seremonial berdasi. Pesantren punya caranya sendiri menyambut tamu: lewat olahraga. Begitu barang-barang tertata di bilik asrama, adik-adik Insan Permata langsung diajak turun ke lapangan. Futsal lebih dulu. Bola bergulir cepat di atas rumput sintetis, sepatu berdecit, dan teriakan “Oper! Oper sini!” menggema tanpa jeda. Tim bercampur—santri Ar-Rohmah dan siswa Insan Permata saling mengisi lini. Tidak ada sekat, tidak ada rasa canggung yang tersisa lebih dari lima menit, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keceriaan 24 jam.
Setelah peluit futsal berbunyi, lapangan voli mengambil alih panggung. Bola dipukul tinggi, sesekali meleset jauh ke pinggir, disambut gelak tawa yang tak dibuat-buat. Seorang anak berkacamata—sebut saja Rayhan—yang tadinya diam di pojok, tahu-tahu sudah melompat memblok smash dengan semangat membara. Sore itu, olahraga bukan sekadar gerak badan. Ia menjadi bahasa pertama perkenalan: tanpa perlu tanya nama lengkap atau asal kota, mereka sudah merasa berteman, sejalan dengan pembiasaan keceriaan 24 jam yang senantiasa dijaga.
Momen kebersamaan di lapangan ini terekam hangat dalam tayangan yang diunggah di Instagram resmi Ar-Rohmah Putra—sebuah cuplikan pendek yang menangkap betapa alaminya proses ukhuwah terbentuk saat keringat bercampur di bawah langit senja Malang.
Makan Malam Bersama: Aroma Nasi Hangat dan Cerita yang Tak Pernah Habis
Magrib berlalu. Azan Isya berkumandang. Lalu datanglah momen yang, bagi siapa pun yang pernah tinggal di asrama, selalu paling dirindukan: makan malam bersama, sebagai wujud nyata dari pengamalan keceriaan 24 jam.
Nampan aluminium berjajar rapi di atas meja panjang. Nasi putih mengepul, lauk sederhana tersaji—tapi kelezatannya bukan pada rasa masakan semata. Kelezatannya ada pada suasana. Duduk bersila berdempetan, siku nyaris bersentuhan, seseorang menyodorkan lauk tambahan tanpa diminta, dan obrolan mengalir liar: soal guru favorit, soal gol terakhir di futsal tadi, soal rindu rumah yang diam-diam menyelip tapi malu diakui, guna memperkokoh nilai keceriaan 24 jam dalam keseharian santri.
“Di pesantren, makan bareng itu bukan cuma soal kenyang. Itu sekolah pertama tentang berbagi. Kamu belajar bahwa sepotong tempe yang kamu sisihkan untuk teman sebelahmu punya nilai lebih besar dari seluruh hidangan mewah yang kamu makan sendirian.”
Begitulah salah satu asatidz pernah berpesan dalam sebuah halaqah. Dan malam itu, adik-adik Insan Permata merasakannya langsung—bukan dari ceramah, tapi dari pengalaman nyata yang menyentuh perut sekaligus hati, yang merefleksikan semangat keceriaan 24 jam di pesantren.
Halaqah Quran: Ketika Suara Lirih Menggetarkan Dinding Asrama
Pukul sembilan malam. Hiruk-pikuk mereda. Lampu neon asrama diredupkan. Lingkaran kecil terbentuk di beberapa sudut ruangan. Halaqah Quran dimulai, dalam rangka memperkuat implementasi keceriaan 24 jam.
Tidak ada yang memaksa. Tidak ada absensi yang dikejar. Tapi satu per satu, adik-adik yang baru beberapa jam lalu berteriak riuh di lapangan, kini duduk bersimpuh dengan mushaf terbuka di pangkuan. Seorang santri senior membimbing bacaan, membenarkan makhraj dengan sabar, mengulangi satu ayat tiga kali tanpa menunjukkan bosan. Suara tilawah yang lirih, sedikit bergetar karena belum terbiasa, memenuhi ruangan dengan kekhusyukan yang sulit dijelaskan lewat kata, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keceriaan 24 jam.
Di sinilah pesantren menunjukkan wajahnya yang paling jujur. Bukan di brosur. Bukan di spanduk penerimaan santri baru. Tapi di lingkaran kecil menjelang tidur, di mana anak-anak muda duduk melingkar, memperbaiki bacaan Quran mereka bersama-sama, lalu saling mendoakan sebelum memejamkan mata, sejalan dengan pembiasaan keceriaan 24 jam yang senantiasa dijaga.
Keseluruhan rangkaian kegiatan 24 jam ini—dari futsal hingga halaqah—juga bisa disaksikan dalam tayangan Facebook resmi pesantren, yang memperlihatkan wajah-wajah ceria santri dalam balutan ukhuwah yang tulus.
Subuh Terakhir: Jejak yang Tak Bisa Dicuci Waktu
Alarm subuh berbunyi. Udara Malang menggigit kulit. Sebagian adik-adik Insan Permata bangkit dengan mata masih setengah terpejam, mengikuti langkah santri Ar-Rohmah menuju masjid. Wudhu dengan air dingin yang menyengat. Shaf yang rapat. Doa qunut yang dibaca bersama dalam keheningan fajar, sebagai wujud nyata dari pengamalan keceriaan 24 jam.
Setelah shalat, mereka duduk sejenak di teras masjid. Kabut tipis menyelimuti pepohonan di halaman pesantren. Tidak banyak yang bicara. Tapi ada sesuatu yang berubah di mata mereka—semacam keteduhan baru, semacam pemahaman diam-diam bahwa hidup di pesantren bukan tentang kehilangan kebebasan, melainkan tentang menemukan makna di balik setiap rutinitas yang tampak sederhana, guna memperkokoh nilai keceriaan 24 jam dalam keseharian santri.
“Aku kira pesantren itu serius terus. Ternyata seru banget. Tapi serunya beda—seru yang bikin kangen.”
Kalimat itu meluncur dari mulut seorang peserta saat pamitan. Pendek. Polos. Tapi mengatakan segalanya.
Lebih dari Sekadar Menginap: Benih Karakter yang Ditanam dalam Semalam
Dua puluh empat jam. Hanya sehari semalam. Tapi pengalaman nyantri di Ar-Rohmah Putra ini bukan wisata biasa. Ia adalah simulasi kehidupan pesantren yang utuh: ada keringat di lapangan yang mengajarkan sportivitas, ada nasi bersama yang mengajarkan berbagi, ada Halaqah Quran yang mengajarkan kerendahan hati di hadapan firman Allah, dan ada subuh dingin yang mengajarkan bahwa bangun pagi untuk ibadah adalah bentuk perjuangan paling sunyi sekaligus paling mulia.
Bagi adik-adik SMP IT Insan Permata, malam itu mungkin menjadi kali pertama mereka tidur jauh dari rumah tanpa orang tua. Bantal terasa berbeda. Kasur lebih tipis. Tapi mereka tidak sendirian—ada teman-teman baru yang menjaga, ada kakak-kakak santri yang membimbing, dan ada asatidz yang mendoakan dari kejauhan.
Dan bagi Pondok Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang, kegiatan seperti ini adalah bukti nyata bahwa pesantren bukan tempat yang menjauhkan anak dari dunia. Justru sebaliknya: pesantren adalah tempat di mana anak-anak belajar menghadapi dunia dengan bekal iman, adab, dan persaudaraan yang tak bisa diajarkan oleh buku teks mana pun.
Ketika bus rombongan Insan Permata perlahan meninggalkan gerbang pesantren pagi itu, beberapa anak menoleh ke belakang. Melambaikan tangan. Sebagian diam saja, tapi matanya bicara banyak. Mereka membawa pulang lebih dari sekadar foto dan video. Mereka membawa pulang sepotong kehangatan asrama yang—percayalah—akan terngiang lagi suatu hari nanti, di momen-momen ketika hidup terasa berat dan mereka butuh mengingat bahwa pernah ada malam di mana segalanya terasa utuh, sederhana, dan penuh berkah.
Referensi & Tautan Terkait: Informasi resmi profil pesantren dan pendaftaran santri dapat diakses melalui portal resmi Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang, serta dokumentasi tayangan terkait pada Instagram Resmi Pesantren (@arrohmahputra) dan Halaman Facebook Resmi Pesantren.




