Budaya syukur di pesantren bukan konsep abstrak yang hanya hidup di lembar kitab kuning. Di Ar-Rohmah Putra Islamic Boarding School Malang, ia bernapas—nyata, hangat, dan terasa dalam setiap momen sekecil apa pun, termasuk dalam sebuah sesi live TikTok yang merekam kegiatan santri SMP dengan segala keceriaannya yang otentik.
Ada yang menarik ketika kamera menyala dan wajah-wajah muda itu muncul di layar. Bukan sekadar senyum yang dipaksakan untuk konsumsi media sosial. Yang tampak adalah ekspresi tulus—mata yang berbinar, ucapan terima kasih yang keluar dari dada, dan gestur tawadhu yang tidak dibuat-buat. Itulah potret nyata dari apa yang selama ini ditanam dengan sabar oleh para asatidz di pondok ini: bahwa syukur adalah adab, bukan aksesoris.
Budaya Syukur: Ketika Terima Kasih Bukan Basa-Basi
Dunia modern sering mereduksi ungkapan terima kasih menjadi formalitas. Dua kata, satu detik, lalu selesai. Namun dalam tradisi pesantren—khususnya di Ar-Rohmah Putra—ungkapan syukur memiliki bobot yang jauh lebih berat dari sekadar etiket sosial.
Al-Qur’an sendiri menegaskannya dengan gamblang. Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini bukan sekadar bacaan hafalan. Di Ar-Rohmah Putra, ia dijadikan fondasi perilaku. Para santri diajarkan bahwa syukur adalah respons aktif—bukan pasif. Syukur bukan hanya diucapkan kepada Allah dalam doa, tetapi juga diwujudkan dalam cara mereka menghargai guru, menghormati teman, dan merayakan pencapaian satu sama lain tanpa iri dan dengki.
Maka ketika seorang santri menerima penghargaan di depan kamera live, dan ia menundukkan kepala, tersenyum malu-malu, lalu mengucapkan terima kasih dengan suara pelan namun sungguh-sungguh—itu bukan kebetulan. Itu hasil dari proses pembinaan panjang yang tidak terlihat di balik layar.
Apresiasi Sebagai Instrumen Pendidikan Paling Halus
Ada kesalahpahaman lama tentang pesantren: bahwa ia adalah institusi yang keras, penuh tekanan, dan miskin apresiasi. Realitasnya? Justru sebaliknya—setidaknya di Ar-Rohmah Putra.
Sistem reward dan apresiasi yang dibangun di sini bukan sekadar hadiah materi. Ia adalah pesan pedagogis yang disampaikan kepada santri bahwa usaha mereka dilihat, dihargai, dan bermakna. Psikologi pendidikan sudah lama membuktikan bahwa motivasi intrinsik tumbuh subur di tanah apresiasi. Ketika seorang anak merasa dihargai, ia tidak lagi berusaha karena takut hukuman—ia berusaha karena ingin menjadi lebih baik.
Inilah yang terjadi di balik layar live kegiatan SMP Ar-Rohmah Putra. Momen-momen penghargaan yang terekam kamera bukan sekadar konten media sosial. Ia adalah pernyataan lembaga kepada santri: kami melihatmu, kami bangga padamu, dan usahamu tidak sia-sia.
Dampaknya nyata. Santri yang merasa diapresiasi tumbuh dengan kepercayaan diri yang sehat—bukan arogansi, melainkan keyakinan bahwa mereka mampu dan berharga. Kepercayaan diri semacam ini adalah modal utama yang akan mereka bawa jauh setelah meninggalkan gerbang pondok.
Live TikTok sebagai Jembatan Ukhuwah antara Pondok dan Rumah
Keputusan Ar-Rohmah Putra untuk menghadirkan live kegiatan SMP di platform TikTok bukan sekadar strategi digital. Ada dimensi yang lebih dalam: transparansi dan kepercayaan.
Bagi seorang ayah di Surabaya yang menitipkan putranya di Malang, atau seorang ibu di Kalimantan yang setiap malam menyimpan rindu—live kegiatan ini adalah jendela. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana putra-putra mereka hidup, berkembang, dan berbahagia. Mereka melihat senyum itu. Mereka mendengar tawa itu. Dan yang paling penting, mereka menyaksikan nilai-nilai yang mereka harapkan tumbuh di diri anak-anak mereka: syukur, kerendahan hati, dan kebersamaan.
Ukhuwah di Ar-Rohmah Putra tidak hanya terjalin di antara sesama santri. Ia merentang keluar—memeluk wali santri yang jauh, menyambungkan dua dunia yang terpisah jarak namun tetap utuh dalam ikatan emosional. Live kegiatan adalah ekspresi dari filosofi pesantren yang percaya bahwa pendidikan adalah proyek bersama antara lembaga, santri, dan keluarga.
“Pesantren yang baik bukan yang menutup diri dari keluarga santri, melainkan yang mengajak mereka menjadi bagian dari perjalanan tumbuh kembang putra-putra mereka.”
Tawadhu: Mahkota yang Tidak Semua Orang Mau Memakainya
Di antara semua nilai yang dibentuk melalui momen apresiasi ini, tawadhu adalah yang paling sulit sekaligus paling berharga. Dunia mengajari anak-anak untuk merayakan diri sendiri—dengan keras, dengan bangga, dengan penuh sorotan. Pesantren mengajari mereka hal yang berbeda: terima pujian dengan rendah hati, karena semua yang kau miliki adalah titipan.
Santri SMP Ar-Rohmah Putra yang menerima penghargaan dan memilih untuk menunduk—bukan karena malu yang destruktif, tetapi karena sadar bahwa pencapaiannya adalah buah dari doa orang tua, bimbingan asatidz, dan rahmat Allah—sedang mempraktikkan tawadhu dalam bentuk paling murninya.
Ini bukan kelemahan. Ini kekuatan. Dalam dunia yang semakin penuh dengan kebisingan narsis, seorang manusia yang mampu menerima penghargaan dengan tenang dan bersyukur adalah manusia yang memiliki fondasi jiwa yang kokoh. Ia tidak akan mudah sombong saat naik, dan tidak akan mudah hancur saat jatuh.
Program pembinaan akhlak di Ar-Rohmah Putra IBS Malang memahami ini. Setiap sesi apresiasi, setiap momen penghargaan, setiap live kegiatan yang menyiarkan senyum santri—semuanya adalah bagian dari kurikulum karakter yang tidak tertulis di silabus resmi, tetapi terpatri di dalam jiwa.
Syukur yang Menular, Kebaikan yang Mengalir
Yang istimewa dari budaya syukur yang dibangun di Ar-Rohmah Putra adalah sifatnya yang menular. Ketika satu santri bersyukur dengan tulus, santri lain menyaksikan dan belajar. Ketika asatidz mengapresiasi dengan hangat, santri merasakan dan menginternalisasi. Ketika lembaga merayakan pencapaian sekecil apa pun, seluruh komunitas tahu bahwa setiap langkah maju dihargai.
Ini bukan ekosistem yang terbentuk dalam semalam. Ia dibangun dengan kesabaran, dengan konsistensi, dengan keyakinan bahwa karakter yang baik adalah investasi jangka panjang yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian—ketika santri-santri ini telah menjadi pemimpin, profesional, dan manusia yang memberi manfaat bagi sesama.
Momen live TikTok itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi nilai yang ia dokumentasikan—syukur, tawadhu, ukhuwah, dan apresiasi—akan terus hidup jauh lebih lama dari durasi videonya. Karena itulah sejatinya pesantren: bukan sekadar tempat belajar ilmu, melainkan rumah tempat jiwa dibentuk.
Referensi & Tautan Terkait: Informasi resmi profil pesantren dan pendaftaran santri dapat diakses melalui portal resmi Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang.
Tonton & Simak Dokumentasi Media Terkait di TikTok:
Terima kasih atas semua Hadiah dan apre…




