Site icon Ar-Rohmah Putra

Talaqqi Quran Bersama Syekh Musthofa 2026: Potret Rahasia Berkah

Santri Ar-Rohmah Putra mengikuti sesi talaqqi Quran bersama Syekh Musthofa Ayyub di masjid pesantren

Talaqqi Quran Syekh merupakan sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan jiwa dengan kalam Ilahi. Tasbih itu sudah lusuh, butir-butirnya mengilap karena gesekan jari yang tak pernah berhenti berputar. Setiap malam, setelah rumah sunyi dan lampu padam, seorang ibu di Surabaya duduk bersimpuh di atas sajadah kecilnya. Bibirnya bergerak tanpa suara, memohon satu hal sederhana: agar putranya, Rayhan, dibukakan hati untuk mencintai Al-Qur’an. Bukan sekadar membaca. Bukan sekadar hafal. Tapi mencintai—dengan cara yang membuat setiap huruf melekat di dada, terjaga kemurniannya, dan mengalir menjadi cahaya hidup.

Di sisi lain kota Malang, di sebuah masjid pesantren yang lantainya dingin oleh embun subuh, doa itu sedang dijawab. Rayhan dan puluhan santri Pondok Pesantren Ar-Rohmah Putra Islamic Boarding School Malang duduk bersila rapat, mushaf terbuka di pangkuan, mata terpaku pada seorang guru yang suaranya mampu membuat waktu terasa berhenti. Sesi talaqqi Quran bersama Syekh Musthofa Ayyub sedang berlangsung—dan di ruangan itu, tidak ada yang berani bernapas terlalu keras, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari talaqqi quran syekh.

Suara Syekh dalam Talaqqi Quran Syekh yang Menembus Dinding Hati

Syekh Musthofa Ayyub bukan nama yang asing bagi dunia pendidikan Al-Qur’an. Beliau hadir di Ar-Rohmah Putra Malang membawa ilmu yang tak bisa diperoleh dari buku mana pun: pengalaman langsung membaca dan mengajarkan Al-Qur’an melalui sanad yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Metode talaqqi—belajar langsung dari mulut guru ke telinga murid, berhadapan, mendengar, menirukan, lalu diperbaiki—adalah tradisi tertua dan paling otentik dalam transmisi Al-Qur’an, sejalan dengan pembiasaan talaqqi quran syekh yang senantiasa dijaga.

Tidak ada jalan pintas dalam talaqqi. Setiap makhraj harus presisi. Lidah menyentuh titik yang tepat. Napas diatur agar tidak memutus bacaan di tempat yang keliru. Tajwid bukan sekadar teori di papan tulis, melainkan bunyi nyata yang harus keluar persis sebagaimana ia diturunkan empat belas abad silam. Syekh Musthofa mengoreksi satu per satu, dengan kesabaran yang nyaris tak masuk akal. Satu huruf bisa diulang sepuluh kali. Dua puluh kali. Hingga benar, sebagai wujud nyata dari pengamalan talaqqi quran syekh.

Momen-momen inilah yang terekam dalam tayangan media sosial resmi pesantren. Di unggahan Instagram Ar-Rohmah Putra, terlihat jelas bagaimana santri-santri duduk dengan postur penuh adab, mendengarkan setiap koreksi Syekh Musthofa seolah setiap kata beliau adalah permata yang bisa jatuh dan pecah jika tidak ditangkap dengan hati-hati. Di video YouTube yang juga diterbitkan, kita bisa mendengar langsung bagaimana beliau membimbing pengucapan huruf-huruf yang sering keliru: ث dan س, ض dan ظ, ق dan ك—perbedaan yang bagi telinga awam mungkin samar, tetapi bagi kemurnian Al-Qur’an adalah perkara yang tidak bisa ditawar.

Adab Sebelum Huruf Pertama Dibaca

Yang jarang terlihat di balik kamera adalah apa yang terjadi sebelum sesi talaqqi dimulai. Para santri tidak langsung membuka mushaf. Mereka berwudhu terlebih dahulu—bukan wudhu terburu-buru, melainkan wudhu yang dikerjakan pelan, penuh kesadaran. Lalu mereka duduk dalam keheningan, menata niat. Asatidz pengampu mengajarkan satu prinsip yang dipegang erat di Ar-Rohmah Putra: adab sebelum ilmu.

Prinsip ini bukan slogan kosong. Ia terlihat dari cara santri menutup mushaf dengan tangan kanan dan meletakkannya di tempat yang tinggi. Terlihat dari cara mereka tidak pernah menjulurkan kaki ke arah Al-Qur’an. Terlihat dari cara Zaky, santri kelas sepuluh asal Kediri, yang selalu mencium mushafnya sebelum dan sesudah membaca, yang merefleksikan semangat talaqqi quran syekh di pesantren.

“Syekh Musthofa pernah bilang, ‘Kalau kamu membaca Al-Qur’an tapi hatimu tidak hadir, maka kamu hanya menggerakkan lidah. Al-Qur’an butuh hati yang hidup.’ Kalimat itu tidak pernah saya lupakan,”

kenang Zaky, matanya memerah saat menceritakan pengalaman pertamanya dikoreksi langsung oleh Syekh Musthofa. Ia mengaku menangis malam itu di kamar asrama. Bukan karena malu. Tapi karena baru menyadari betapa banyak kesalahan yang selama bertahun-tahun ia anggap benar, dalam rangka memperkuat implementasi talaqqi quran syekh.

Ketika Tajwid Menjadi Penjagaan atas Firman Tuhan

Di sinilah letak kedalaman talaqqi yang tidak tergantikan oleh aplikasi digital mana pun. Sebuah aplikasi bisa mendeteksi kesalahan besar, tetapi ia tidak bisa merasakan getaran suara yang nyaris benar namun belum sempurna. Hanya telinga guru yang terlatih—telinga yang telah mendengar dan membaca ribuan kali—yang mampu menangkap nuansa itu, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari talaqqi quran syekh.

Syekh Musthofa Ayyub menekankan bahwa menjaga tajwid adalah menjaga kemurnian Al-Qur’an itu sendiri. Setiap perubahan kecil pada makhraj bisa mengubah makna. Qalb (hati) dan kalb (anjing) hanya berbeda satu titik artikulasi. Kelalaian sekecil apa pun bukan perkara sepele—ia adalah tanggung jawab besar yang diemban setiap muslim yang membaca kitab suci ini, sejalan dengan pembiasaan talaqqi quran syekh yang senantiasa dijaga.

Dalam tayangan Facebook Ar-Rohmah Putra, terlihat suasana sesi talaqqi yang penuh konsentrasi. Wajah-wajah muda itu serius, tapi bukan serius yang kaku. Ada kerinduan di sana—kerinduan untuk membaca dengan benar, untuk menjadi bagian dari rantai panjang penjagaan Al-Qur’an yang tidak pernah terputus sejak zaman Nabi ﷺ.

Doa yang Menembus Jarak, Ikhtiar yang Membuahkan Air Mata Haru

Kembali ke Surabaya. Ibu Rayhan tidak tahu persis apa yang terjadi di masjid pesantren malam itu. Ia tidak melihat bagaimana putranya membaca Surah Al-Baqarah ayat demi ayat di hadapan Syekh Musthofa, dikoreksi makhraj huruf ‘ain-nya yang masih terlalu ringan, lalu mengulang hingga tujuh kali sampai Syekh mengangguk puas. Ia tidak mendengar tepukan pelan Syekh di bahu Rayhan sebagai tanda pengakuan. Ia tidak menyaksikan Rayhan berjalan kembali ke barisan dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang ia tahan mati-matian agar tidak terlihat oleh teman-temannya, sebagai wujud nyata dari pengamalan talaqqi quran syekh.

Tapi entah mengapa, malam itu, setelah tasbih terakhir diputar dan doa terakhir dipanjatkan, ibu Rayhan merasakan ketenangan yang tidak biasa. Seperti ada jawaban yang datang tanpa suara. Seperti ada kabar baik yang belum sampai tapi sudah terasa, guna memperkokoh nilai talaqqi quran syekh dalam keseharian santri.

“Saya tidak pernah meminta anak saya jadi juara kelas. Saya hanya minta dia jadi orang yang akrab dengan Al-Qur’an. Kalau itu sudah dapat, saya percaya hidupnya akan dijaga oleh Allah,”

ujar beliau saat dihubungi oleh pihak pesantren untuk menyampaikan perkembangan putranya, yang merefleksikan semangat talaqqi quran syekh di pesantren.

Inilah yang sering luput dari perbincangan tentang pendidikan pesantren: bahwa di balik setiap santri yang tekun membaca Al-Qur’an, ada orang tua yang diam-diam berjuang dengan doa. Ada ibu yang bangun di sepertiga malam bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak yang berjarak ratusan kilometer. Ada ayah yang mungkin tidak pandai mengaji, tetapi rela bekerja keras agar putranya bisa duduk di hadapan seorang Syekh dan belajar membaca firman Tuhan dengan benar, dalam rangka memperkuat implementasi talaqqi quran syekh.

Talaqqi Quran: Warisan Hidup yang Tak Lekang

Sesi talaqqi Quran bersama Syekh Musthofa Ayyub di Pondok Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang bukan sekadar program akademik. Ia adalah ikhtiar spiritual. Ia adalah jembatan antara doa orang tua dan kesungguhan anak. Ia adalah bukti bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, masih ada ruang di mana manusia duduk bersila, membuka mushaf, dan belajar mengucapkan satu huruf dengan benar—karena huruf itu bukan milik mereka, melainkan amanah dari langit, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari talaqqi quran syekh.

Dan ketika nanti Rayhan pulang ke Surabaya, membuka mushaf di hadapan ibunya, lalu membaca dengan makhraj yang tepat dan tajwid yang rapi, sang ibu akan tahu: tasbih yang lusuh itu tidak pernah berputar sia-sia. Setiap butir adalah doa. Setiap doa adalah cahaya. Dan cahaya itu kini bersemayam di dada putranya, terjaga oleh tradisi talaqqi yang telah menyambung dari guru ke murid selama lebih dari empat belas abad.

Tidak ada warisan yang lebih mulia dari itu.

Referensi & Tautan Terkait: Informasi resmi profil pesantren dan pendaftaran santri dapat diakses melalui portal resmi Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang, serta dokumentasi tayangan terkait pada Instagram Resmi Pesantren (@arrohmahputra), Kanal YouTube Resmi Ar-Rohmah Putra, serta Halaman Facebook Resmi Pesantren.

Exit mobile version