[vc_row][vc_column width=”1/4″][vc_custom_heading text=”Sudah siapkah Anda dengan New Normal dan Herd Immunity” font_container=”tag:h1|font_size:30|text_align:right” css=”.vc_custom_1591025717951{padding-bottom: 10px !important;}”][vc_single_image image=”10004″ img_size=”full” alignment=”center”][/vc_column][vc_column width=”3/4″ css=”.vc_custom_1591026029884{padding-right: 20px !important;padding-left: 20px !important;}”][vc_column_text]Assalamu’alaikum teman-teman. Kembali dengan saya, Agung Cendekia. Kali ini aku akan membahas mengenai New Normal dan Herd Immunity sesuai pemahaman saya ya… Insyallah.
Pada dasarnya New Normal dan Herd Immunity merupakan hal yang berbeda. Meski begitu beredar anggapan jika New Normal ini hanya berujung pada strategi Herd Immunity. Atau membiarkan suatu kelompok terinfeksi corona dan menciptakan kekebalan sendiri.
New normal adalah keibijakan yang dibicarakan oleh WHO untuk mengembalikan keadan seperti semula. Aktivitas akan kembali dilakukan seperti biasa tapi harus dilakukan dengan protokol pencegahan COVID-19 yaitu dengan cuci tangan, memakai masker, dan jaga jarak kurang lebih 2 meter ya biar aman. Tapi ternyata WHO memberikan cara-cara untuk negara agar dapat melakukan new normal. Nah, misalnya transmisi nya udah terkontrol atau angka kasusnya sudah turun atau biasa disebut flatten in the curve. Lalu fasilitas kesehatan juga harus memadai, menampung semua korban yang banyak.
Jadi, ada salah satu website yang membuat kompetisi antar negara dalam flatten in the curve. Jika grafik negaranya hijau artinya countries beating COVID-19 (menang) dia berhasil mendatarkan kurva corona, jika oranye artinya countries that are nearly there (cukup), dan merah itu countries that need to take action (membutuhkan usaha lebih). Berikut perbandingan grafik di beberapa negara Asia Tenggara.

Source: https://www.endcoronavirus.org/countries
Di sini kita tidak menyalahkan kebijakan pemerintah tetapi meminta kebijakan kita untuk tercapai tujuan yang diharapkan. Kita harus siap dalam melakukan New Normal ini dengan sungguh-sungguh karena jika gagal, risikonya tinggi. Bisa jadi kurva kasus COVID-19 bukannya turun justru naik, naudzubillah Min Dzalik.
Penerapan konsep New Normal, merupakan taruhan besar bagi negara kita. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin negeri dalam melaksanakan hukum tertinggi yang bahkan lebih tinggi dari UUD NRI 1945.
BAGAIMANA DENGAN HERD IMMUNITY?
Herd Immunity terjadi ketika hampir seluruh populasi sudah mendapatkan imun sehingga dapat melindungi orang yang belum mendapatkan imun. Dibutuhkan minimal 70% populasi untuk mendapatkan herd immunity. Apabila penduduk Indonesia dianggap sebanyak 270 juta, maka sedikitnya 189 juta harus terinfeksi untuk mendapatkan herd immunity.
Misalnya cacar air, karena 80% populasi mendapatkan imunitas dari vaksin atau berbagai cara lainnya maka dari itu laju transmisi nya rendah sehingga melindungi yang belum terkena. Herd Immunity tanpa vaksin masih bisa menular ke anak kecil sampai orang dewasa yang memiliki imun rendah.
Tetapi, Covid-19 ini agak berbeda dan justru menyebabkan kematian. Angka kamatian COVID-19 sepuluh kali lebih berbahaya daripada flu biasa.
Menurut WHO masih belum ada bukti / studi jika setelah terinfeksi COVID-19 akan kebal.
Menurut ahli epidemiologi UI, jika kita membiarkan orang terinfeksi akan banyak sekali korbannya, sampai menunggu vaksinnya ada. Dan diharapkan peningkatan pasien COVID-19 ini pelan-pelan agar rumah sakit tidak kuwalahan.
Menurut dr. Tri, herd immunity sendiri sangat berbahaya jika diterapkan pada penanganan wabah virus Corona COVID-19. Banyak yang akan dikorbankan karena syarat capai herd immunity adalah 80 persen dari populasi terinfeksi Corona.
Dari semua materi yang di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus menjaga agar tidak tertular dan tidak menulari orang lain. Ustadz Abdul Somad berpesan pada umat Islam untuk menyiapkan berbagai hal bila kebijakan new normal mulai diberlakukan. Terutama yang berhubungan dengan pelayanan ibadah di masjid, sebab dengan kebijakan yang baru tersebut memungkinkan masjid-masjid kembali dibuka seperti sebelumnya.
[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]