Murobbi Orang Tua Kedua Terbukti Hadir: Momen Haru Penyambutan Santri Baru Ar-Rohmah Putra 2026

Semangat dan dedikasi murobbi orang tua senantiasa menjadi bagian tak terpisahkan dari koper itu belum sepenuhnya rapi tersusun di sudut kamar ketika Ustadz Ilham—salah satu murobbi di Pondok Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang—melangkah masuk, menyapa dengan suara rendah yang terasa seperti angin yang tidak terburu-buru. Ia tidak langsung menyuruh beres-beres. Ia duduk dulu di tepi dipan, menanyakan nama, asal daerah, dan makanan kesukaan. Percakapan kecil yang tampak sepele, namun bagi seorang santri baru yang baru saja dipeluk ibunya untuk terakhir kali sebelum gerbang pondok tertutup, percakapan itu adalah tali pertama yang mengikatkan rasa aman di tempat yang serba baru.

Inilah wajah nyata dari peran murobbi orang tua kedua di Ar-Rohmah Putra—sosok yang tidak berdiri di balik meja administrasi, melainkan hadir di sela-sela kehidupan harian santri paling muda sekalipun, menemani mereka melewati hari-hari pertama yang selalu menjadi bagian paling berat dari perjalanan panjang di pesantren.

Ketika Bau Rumah Masih Menempel di Baju

Hari pertama di asrama memiliki aroma tersendiri. Bukan aroma yang tercium hidung, melainkan aroma yang hanya terasa di dada. Santri baru membawa serta kebiasaan rumah dalam lipatan baju, dalam cara mereka meletakkan sandal, dalam keragu-raguan kecil saat hendak mengambil air minum dari galon bersama. Semuanya terasa asing. Jadwal yang terstruktur, bunyi bel yang baru pertama kali didengar, wajah-wajah teman yang belum punya nama.

Di momen rentan inilah murobbi bergerak paling aktif. Mereka tidak menunggu santri datang melapor dengan masalah. Mereka yang mendatangi. Memeriksa kamar, menengok kondisi lemari, duduk sebentar saat malam menjelang untuk sekadar memastikan tidak ada yang tidur dengan hati terlalu penuh. Cara kerja ini bukan protokol tertulis—ia lahir dari keyakinan bahwa mendidik anak orang berarti menanggung sebagian besar amanah yang biasa dipikul oleh dua orang yang paling mencintai anak itu.

“Kami tidak bisa menggantikan ayah dan ibu. Itu bukan tujuan kami. Yang kami bisa lakukan adalah memastikan setiap santri merasakan bahwa ia tidak sendirian—bahwa ada yang memperhatikan, ada yang peduli, ada yang akan mendengarkan ketika ia butuh bicara.”

Kalimat itu pernah diucapkan seorang murobbi senior di Ar-Rohmah Putra dalam satu sesi halaqoh, dan ia terus bergema jauh setelah sesi itu selesai—terngiang di benak santri-santri yang kini sudah dewasa, yang mengakui bahwa justru kehadiran murobbi di hari-hari awal itulah yang paling membekas.

Adab yang Diajarkan Lewat Keteladanan, Bukan Ceramah

Pesantren Ar-Rohmah Putra memegang teguh prinsip bahwa adab mendahului ilmu. Namun adab tidak diajarkan hanya melalui materi di kelas. Ia ditularkan lewat contoh yang hidup—dan murobbi adalah contoh paling dekat yang bisa dilihat santri setiap hari.

Ketika murobbi menyapa lebih dulu, santri belajar tentang rendah hati. Ketika murobbi mengingatkan dengan nada yang tidak merendahkan, santri belajar tentang cara menegur yang beradab. Ketika murobbi ikut duduk bersama santri di makan malam, berbagi cerita ringan tentang masa santri mereka dulu, dinding antara “pembimbing” dan “yang dibimbing” mencair menjadi hubungan yang jauh lebih manusiawi—hubungan yang justru lebih efektif membentuk karakter daripada seribu kali ceramah.

Di sinilah keunikan ekosistem asrama Ar-Rohmah Putra. Pembentukan karakter tidak terjadwalkan dalam satu mata pelajaran. Ia mengalir sepanjang waktu: dalam cara antri di kamar mandi pagi-pagi, dalam kebiasaan merapikan kasur sebelum berangkat ke masjid, dalam keberanian mengucapkan “afwan” ketika tidak sengaja menyenggol teman. Semua itu benih kecil yang ditanam murobbi setiap hari, dengan kesabaran yang tidak mengenal batas semester.

Orang Tua di Rumah, Murobbi di Asrama—Dua Tangan yang Berpegangan

Kecemasan orang tua di hari-hari pertama adalah sesuatu yang dimaklumi sepenuhnya oleh para murobbi. Mereka tahu betul bahwa di luar tembok pesantren, ada ibu yang mungkin masih memegang boneka atau baju kecil sambil menunggu kabar. Ada ayah yang tampak tenang di permukaan namun diam-diam membuka aplikasi pesan berkali-kali, berharap ada foto atau video singkat yang membuktikan anaknya baik-baik saja.

Karena itulah murobbi di Ar-Rohmah Putra memposisikan diri bukan sebagai pengganti orang tua, melainkan sebagai perpanjangan tangan mereka. Nilai yang ditanam di rumah tidak dicabut di sini—ia disiram dan dirawat. Kedekatan yang terjalin antara murobbi dan santri justru memperkuat ikatan santri dengan keluarganya, karena santri yang merasa aman di asrama akan lebih mudah bertumbuh, lebih mudah belajar, lebih mudah membuka hati untuk nilai-nilai baik yang ingin ditanamkan kedua orang tuanya sejak kecil.

Proses adaptasi memang tidak selalu mulus. Ada malam ketika seorang santri baru berbaring menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berlarian ke mana-mana. Ada pagi ketika semangat terasa turun sebelum hari benar-benar dimulai. Namun di titik-titik itulah murobbi hadir—bukan dengan solusi instan, melainkan dengan kehadiran yang konsisten, dengan pertanyaan kecil yang menunjukkan bahwa mereka sungguh memperhatikan, dengan doa yang dipanjatkan bahkan setelah santri-santrinya terlelap.

“Yang paling saya ingat dari hari pertama di pesantren bukan jadwal atau peraturannya—tapi cara Ustadz duduk di sebelah saya dan bilang, ‘Nanti kalau kamu kangen rumah, cerita ke saya dulu.’ Kalimat itu yang membuat saya bertahan.”

Pesantren Bukan Tempat Menitip Anak—Ia Tempat Menumbuhkan Manusia

Gambaran pesantren sebagai tempat yang dingin, disiplin besi, dan jauh dari kehangatan sudah lama usang. Yang terjadi di Ar-Rohmah Putra Malang adalah sebaliknya: sebuah ekosistem yang dirancang untuk menjadi rumah kedua dalam arti paling sesungguhnya—bukan sekadar tempat tidur dan makan, melainkan tempat di mana seorang anak bertemu dengan dirinya sendiri, menemukan kekuatan yang belum ia sadari, dan belajar bahwa kemandirian bukan berarti kesepian.

Murobbi adalah jantung dari ekosistem itu. Mereka yang menjaga ritme asrama tetap hangat di tengah struktur yang ketat. Mereka yang memastikan bahwa setiap santri baru—sekecil dan setakut apapun saat pertama kali datang—tahu bahwa ia disambut, bukan sekadar diterima secara administratif.

Dan ketika suatu hari nanti santri itu kembali sebagai alumni, membawa ijazah atau pengalaman atau apapun yang ia raih, ia akan ingat: ada seseorang yang duduk di tepi dipannya di hari pertama, yang menanyakan nama dan makanan kesukaannya. Bukan karena itu bagian dari tugasnya. Tapi karena ia peduli.

Itulah murobbi. Itulah Ar-Rohmah Putra.

Referensi & Tautan Terkait: Informasi resmi profil pesantren dan pendaftaran santri dapat diakses melalui portal resmi Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang.

Tonton & Simak Dokumentasi Multimedia Terkait (Instagram, TikTok, Facebook):

Buka Video Instagram

Melihat pemandangan ini, jujur… hati …

Buka Postingan Facebook

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Facebook
WhatsApp
Twitter
Email
0
Apakah anda merasa terbantu, silahkan beri komentarx
()
x