Ibu Ratna tidak pernah menyangka bahwa sebuah video berdurasi puluhan detik bisa membuat matanya berkaca-kaca di tengah hiruk-pikuk dapur sore. Telepon genggamnya bersandar di rak bumbu, memutar ulang cuplikan TikTok dari akun resmi Pondok Pesantren Ar-Rohmah Putra. Di layar kecil itu, putranya—Rayhan, kelas sepuluh—tampak berlari mengejar bola voli, tertawa lepas bersama kawan-kawannya di bawah langit jingga Malang. Momen sore santri yang tampak biasa. Tapi bagi seorang ibu yang rumahnya berjarak ratusan kilometer, tawa itu adalah jawaban dari setiap doa yang ia bisikkan di sepertiga malam.
Inilah paradoks indah kehidupan pesantren: momen paling sederhana justru menyimpan makna paling dalam. Bukan upacara megah, bukan piala berkilau. Hanya sore hari, halaman terbuka, dan sekumpulan remaja yang sedang belajar menjadi manusia utuh—tanpa sadar bahwa mereka sedang mengukir kenangan yang akan mereka rindukan seumur hidup, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari momen sore santri.
Momen Sore Santri: Ketika Beduk Ashar Menjadi Lonceng Kebebasan Kecil
Setiap hari di Ar-Rohmah Putra memiliki ritme. Pagi diisi oleh deretan pelajaran formal dan kajian kitab. Siang menyambung dengan hafalan dan muraja’ah. Lalu datanglah sore—waktu yang oleh para santri disebut dengan nada rindu bahkan ketika mereka masih menjalaninya, sejalan dengan pembiasaan momen sore santri yang senantiasa dijaga.
Selepas salat Ashar berjamaah, halaman pesantren berubah wujud. Lapangan yang tadi sunyi mendadak ramai oleh dentuman bola voli yang memantul di aspal. Sudut-sudut teras menjadi ruang bercengkrama. Ada yang duduk melingkar, membicarakan mimpi-mimpi besar dengan bahasa remaja yang polos dan jujur. Ada yang sekadar bersandar di dinding, memandang langit Malang yang perlahan berubah warna, sambil mengunyah camilan kiriman dari rumah, sebagai wujud nyata dari pengamalan momen sore santri.
Tidak ada yang istimewa jika dilihat sekilas. Tapi justru di situlah letak keajaibannya, guna memperkokoh nilai momen sore santri dalam keseharian santri.
Dalam tayangan TikTok resmi Ar-Rohmah Putra, suasana sore ini terekam dengan jujur: gelak tawa santri yang berlarian, sapaan hangat antar-kawan, dan gerak tubuh yang memancarkan kebahagiaan tanpa rekayasa. Video itu bukan produksi sinematik dengan naskah tertulis. Ia adalah potongan kehidupan nyata—dan justru karena itu, ia menyentuh hati ribuan orang tua yang menontonnya.
Bola Voli, Keringat, dan Pelajaran yang Tak Ada di Buku Teks
Rayhan bukan atlet. Servisnya sering melenceng. Tapi setiap sore, ia tetap berdiri di lapangan, karena di sana ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari kemenangan: rasa diterima, yang merefleksikan semangat momen sore santri di pesantren.
Di pesantren, olahraga sore bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah laboratorium sosial. Ketika seorang santri salah smash dan timnya kehilangan poin, yang terdengar bukan makian—melainkan tepukan di punggung dan kalimat, “Gak apa, coba lagi.” Ketika kaki terkilir saat berlari, yang datang pertama bukan pelatih, melainkan teman sekamar yang langsung membopong tanpa diminta, dalam rangka memperkuat implementasi momen sore santri.
“Saya sering bilang ke santri-santri: kalian tidak sedang bermain voli. Kalian sedang belajar bagaimana menjadi saudara. Lapangan ini mengajarkan kalian sabar ketika kalah, rendah hati ketika menang, dan setia ketika kawan membutuhkan.”
Begitulah salah seorang asatidz pernah menyampaikan wejangan ringan di pinggir lapangan—kalimat yang tampak sederhana, namun menancap di benak santri lebih dalam dari rumus fisika mana pun, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari momen sore santri.
Di luar lapangan, kebersamaan sore mengambil bentuk lain. Sekelompok santri berkumpul di bawah pohon, membaca buku cerita bergantian. Yang lain menggelar sajadah di teras, mengulang hafalan sambil saling menyimak. Ada juga yang diam-diam menulis surat untuk orang tua—kebiasaan yang terdengar kuno, tapi masih hidup di lingkungan pesantren, tempat di mana rasa hormat kepada keluarga bukan slogan, melainkan napas keseharian, sejalan dengan pembiasaan momen sore santri yang senantiasa dijaga.
Rumah Kedua yang Mengajarkan Arti Pulang
Bagi orang luar, pesantren mungkin terlihat sebagai tempat penuh aturan. Bangun dini hari, jadwal padat, jauh dari keluarga. Tapi tanyakan kepada santri yang sudah merasakan sore-sore itu—mereka akan bercerita dengan mata berbinar, bukan dengan keluhan.
Sebab pesantren, khususnya Ar-Rohmah Putra Islamic Boarding School Malang, bukan hanya tempat menuntut ilmu. Ia adalah rumah kedua. Rumah yang mengajarkan bahwa kemandirian bukan berarti kesepian. Bahwa kedisiplinan bukan berarti kehilangan kegembiraan. Bahwa berjauhan dari orang tua justru bisa menumbuhkan cinta yang lebih matang kepada mereka.
Zaky, santri kelas sebelas yang berasal dari Kalimantan, pernah bercerita kepada ustadznya dengan suara pelan:
“Dulu saya kira saya akan kesepian di sini, Ustadz. Ternyata saya justru punya puluhan saudara. Sore-sore ini yang membuat saya betah. Kalau nanti lulus, saya pasti rindu lapangan voli itu.”
Kalimat itu bukan puisi. Ia lahir dari pengalaman nyata seorang remaja yang sedang menemukan identitasnya di antara adzan dan senja, di antara pelajaran dan permainan, di antara rindu rumah dan rasa syukur memiliki keluarga baru.
Doa Seorang Ibu dan Senja yang Menjawab
Kembali ke Ibu Ratna. Setelah menonton video itu tiga kali, ia meletakkan teleponnya dan mengambil tasbih. Bibirnya bergerak tanpa suara, memanjatkan doa yang sama seperti setiap malam: Ya Allah, jaga anakku. Jadikan ia anak yang saleh, mandiri, dan bermanfaat.
Ia tidak tahu bahwa di saat yang hampir bersamaan, Rayhan baru saja selesai bermain voli dan berjalan menuju masjid untuk salat Maghrib. Keringatnya belum kering. Tawanya masih tersisa di sudut bibir. Dan di dalam hatinya, tanpa bisa ia jelaskan dengan kata-kata, ada rasa hangat yang muncul setiap kali ia melangkah bersama kawan-kawannya—rasa bahwa ia sedang berada di tempat yang tepat.
Momen sore santri di Ar-Rohmah Putra memang bukan peristiwa besar yang masuk berita nasional. Tidak ada piala, tidak ada podium. Hanya sore biasa dengan bola voli, canda tawa, dan langit Malang yang perlahan meredup. Tapi di balik kesederhanaannya, momen ini menyimpan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh kurikulum mana pun: persaudaraan sejati, pembentukan karakter tanpa ceramah panjang, dan kenangan yang kelak akan membuat para santri tersenyum saat mereka sudah dewasa dan mengingat masa-masa itu.
Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik tidak selalu terjadi di dalam kelas. Kadang ia terjadi di lapangan voli yang retak, di bawah pohon rindang, di antara tawa remaja yang sedang belajar menjadi manusia baik—dengan restu orang tua yang mengalir diam-diam lewat doa, menembus jarak, menembus langit, sampai ke senja Malang yang selalu hangat.
Referensi & Tautan Terkait: Informasi resmi profil pesantren dan pendaftaran santri dapat diakses melalui portal resmi Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang, serta dokumentasi tayangan terkait pada TikTok Resmi (@arrohmahputramlg).

