Pengumuman itu datang bukan dengan fanfare, bukan dengan sorak-sorai yang dipersiapkan. Ia hadir diam-diam — sebuah nama tercetak di daftar resmi, disusul nama kedua, ketiga, lalu keempat. Empat santri Ar-Rohmah Putra lolos OSN-K 2026, menembus seleksi Olimpiade Sains Nasional tingkat Kabupaten/Kota dari empat bidang ilmu sekaligus: Informatika, Fisika, Geografi, dan Kimia. Di ruang-ruang pesantren yang biasa dipenuhi lantunan hafalan dan doa subuh, kabar itu menyebar seperti cahaya — hangat, menerangi, dan membakar semangat.
Santri Ar-rohmah Putra: Empat Nama, Empat Bidang, Satu Kebanggaan
Mereka bukan sekadar nama di selembar kertas pengumuman. Masing-masing membawa cerita perjuangan yang berbeda, bidang yang mereka cintai dengan cara berbeda pula.
Ahmad Alrazi Drachman mewakili bidang Informatika. Di balik layar laptop yang sering ia gunakan usai maghrib, Alrazi telah lama bergulat dengan logika komputasi, algoritma, dan struktur data. Bagi santri ini, baris kode bukan sekadar instruksi mesin — ia adalah cara berpikir sistematis yang justru makin tajam ketika dipadukan dengan disiplin pesantren. Keteraturan jadwal, kebiasaan muhasabah, dan fokus yang dilatih sejak bangun sebelum shubuh — semua itu membentuk mental seorang problem-solver sejati.
Ericko Sam Pramudana melaju di bidang Fisika. Dunia partikel, gelombang, dan gaya tarik gravitasi bukan hal asing baginya. Ericko dikenal sebagai santri yang gemar bertanya — bukan pertanyaan yang mengganggu, melainkan pertanyaan yang membuka cakrawala. Guru-gurunya menyebut ia punya keberanian intelektual: tidak takut salah, tidak malu untuk kembali ke awal jika pemahaman belum kokoh.
M Fathir Bintang Ananta membawa nama Ar-Rohmah Putra ke ranah Geografi. Bidang yang kerap dianggap “hafalan semata” ini ia dekati dengan cara berbeda — dengan rasa ingin tahu tentang bagaimana bumi bekerja, bagaimana manusia berinteraksi dengan ruang dan lingkungannya. Fathir memahami bahwa geografi adalah ilmu tentang kehidupan nyata, dan pesantren justru mengajarkan kepekaannya terhadap alam dan sesama.
Muhandis Alfatihatul Quds tampil di bidang Kimia — ilmu yang menuntut ketelitian hingga ke tingkat molekul. Nama “Muhandis” dalam bahasa Arab berarti insinyur atau perancang, dan seperti namanya, ia memang senang merancang: merancang pemahaman, menyusun hipotesis, menguji asumsi. Di laboratorium sederhana maupun di atas meja belajarnya, Muhandis membuktikan bahwa ketelitian ilmiah dan ketenangan jiwa seorang santri bisa berjalan beriringan.
“Baarakallahu fiikum — keberkahan ini bukan milik kami sendiri. Ini milik pesantren, milik para asatidz, milik orang tua yang tidak pernah berhenti mendoakan.”
Pesantren Bukan Penjara Prestasi — Ia Inkubatornya
Ada anggapan lama yang masih beredar di sebagian kalangan: bahwa pesantren dan olimpiade sains adalah dua dunia yang tak bisa bertemu. Bahwa santri hanya bisa unggul di ilmu agama, sementara sains adalah domain sekolah umum. Keempat nama ini meruntuhkan anggapan itu dengan cara paling elegan — dengan bukti.
Ar-Rohmah Putra Islamic Boarding School Malang telah lama membangun ekosistem yang tidak memisahkan taqwa dari kecerdasan. Kurikulum terpadu bertajuk Taqwa-Cerdas-Mandiri bukan slogan kosong. Ia adalah filosofi hidup yang diterapkan dari jadwal harian: qiyamul lail yang melatih ketangguhan mental, halaqah ilmu yang mengasah daya nalar, hingga pembinaan olimpiade yang dirancang dengan serius oleh para asatidz dan guru bidang studi.
Para santri tidak belajar sains dengan mengorbankan identitas keislaman mereka. Justru sebaliknya — spirit keilmuan dalam Islam, semangat iqra yang tertanam sejak masa awal Islam, menjadi bahan bakar yang menghidupkan rasa ingin tahu mereka. Ketika Ericko mempelajari hukum Newton, ia juga merenungi keteraturan ciptaan Allah. Ketika Muhandis mengurai reaksi kimia, ia takjub pada presisi yang Allah titipkan dalam setiap unsur alam semesta.
Etos Juara yang Berakar dari Sajadah
Persiapan OSN-K bukan sprint tiga hari. Ia adalah maraton berbulan-bulan — latihan soal, diskusi intensif, simulasi ujian, dan sesi pembahasan yang kadang berlanjut hingga malam. Tapi yang membedakan santri Ar-Rohmah Putra dari peserta lain bukan hanya jam belajar mereka. Ini tentang bagaimana mereka belajar.
Ketekunan tanpa tawakal mudah berubah menjadi kecemasan. Tekad tanpa doa mudah goyah saat soal terasa mustahil. Di pesantren, keempat santri ini belajar bahwa ikhtiar dan tawakkal bukan dua hal yang bertentangan — keduanya adalah satu napas. Mereka mengerjakan soal olimpiade dengan sepenuh kemampuan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan sepenuh hati.
Restu orang tua menjadi energi yang tidak kelihatan tapi nyata terasa. Pesan-pesan singkat dari rumah, doa ibu yang dipanjatkan di kejauhan, keyakinan ayah bahwa anaknya sudah dibekali dengan sebaik-baik bekal — semua itu mengalir diam-diam ke dalam ketenangan yang tampak di wajah mereka saat menjawab lembar soal.
“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.” — Imam Syafi’i. Kalimat itu bukan sekadar hiasan dinding di pesantren. Ia adalah pengingat harian.
OSN-P 2026: Langkah Berikutnya Sudah Menanti
Lolos OSN-K adalah pencapaian yang patut dirayakan — dan pesantren merayakannya dengan tulus, dengan ucapan tahniyah yang hangat dan doa-doa yang dipanjatkan bersama. Tapi di Ar-Rohmah Putra, perayaan tidak pernah menjadi tempat berhenti. Ia adalah bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.
OSN-P 2026 — seleksi tingkat provinsi — kini menjadi cakrawala baru yang harus ditaklukkan. Tantangannya naik berlipat: pesaing lebih kuat, soal lebih dalam, tekanan lebih besar. Namun pesantren tidak akan membiarkan keempat santri ini berjalan sendiri. Program pembinaan intensif sudah dirancang: sesi mentoring bersama guru bidang studi terbaik, latihan soal OSN tahun-tahun sebelumnya, hingga simulasi kondisi ujian yang mendekati situasi nyata.
Lebih dari itu, pesantren menyiapkan sesuatu yang tidak bisa ditemukan di bimbel manapun: lingkungan yang menjaga ruhiyah tetap bersih, hati tetap bening, dan niat tetap lurus. Karena di Ar-Rohmah Putra, mereka percaya bahwa juara sejati bukan hanya yang meraih medali — melainkan yang tetap rendah hati, tetap menjaga shalatnya, dan tetap ingat bahwa semua prestasi adalah amanah.
Ahmad Alrazi, Ericko, Fathir, dan Muhandis — empat nama yang kini membawa harum Ar-Rohmah Putra ke panggung provinsi. Perjalanan masih panjang. Tapi mereka tidak berangkat dengan tangan kosong. Mereka membawa ilmu, iman, doa orang tua, bimbingan asatidz, dan satu keyakinan sederhana yang kokoh: bahwa Allah tidak menyia-nyiakan orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya.
Tahniyah, wahai para pejuang muda. Baarakallahu fiikum — dan semoga OSN-P 2026 menjadi babak berikutnya dari kisah yang belum selesai ini.
Referensi & Tautan Terkait: Informasi resmi profil pesantren dan pendaftaran santri dapat diakses melalui portal resmi Pesantren Ar-Rohmah Putra Malang.
Tonton & Simak Dokumentasi Multimedia Terkait (YouTube, Instagram, Facebook):




